HALTENG, RJ- Dampak musim kemarau mulai dirasakan seorang perempuan pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Lelilef dan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ia mengaku mengalami penurunan pendapatan pribadi secara drastis dalam dua bulan terakhir.
Curhat Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Halmahera Tengah,Kemarau menekan pendapatan pribadi kami.(foto Istimewa)
Perempuan tersebut mengungkapkan, dalam kondisi normal, pendapatan kotornya bisa mencapai Rp40 juta per bulan, dengan penghasilan bersih sekitar Rp25 juta. Namun, belakangan ini pendapatannya merosot hingga sekitar Rp15 juta per bulan.
“Dampaknya sangat terasa. Biasanya pendapatan pribadi saya dalam satu bulan bisa mencapai Rp40 juta, dengan pendapatan bersih sekitar Rp25 juta. Tetapi selama musim kemarau ini, penghasilan turun menjadi sekitar Rp15 juta. Dua bulan terakhir hampir tidak ada hasil,” ungkapnya.Selasa (13/10/2026).
Ia menjelaskan, tarif untuk satu kali layanan dipatok sebesar Rp300 ribu. Dalam kondisi normal, jumlah pelanggan yang datang bisa mencapai lebih dari 10 orang dalam sehari. Pada hari-hari tertentu, ia juga bisa mendapatkan sekitar lima pelanggan.
Namun, situasi tersebut kini berubah. Ia mengaku kesulitan mendapatkan pelanggan, bahkan untuk satu orang dalam sehari.
“Biasanya dalam sehari bisa mendapatkan lima sampai lebih dari 10 tamu. Sekarang, mencari satu tamu saja sudah susah,” tuturnya.
Menurut pengakuannya, kondisi tersebut turut dirasakan di kawasan Lelilef dan Weda yang memiliki pelanggan dari lingkungan aktivitas ekonomi setempat. Penurunan jumlah pelanggan berdampak langsung terhadap penghasilan pribadinya.(*)