Angka Ekonomi Halteng Melonjak 60,77 Persen, Kemiskinan Turun ke 9,16 Persen

Editor: Admin Utama author photo

Weda, RJ - Industri pertambangan terus menjadi kekuatan besar yang membentuk wajah ekonomi Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Di tengah derasnya investasi dan ekspansi aktivitas industri, sejumlah indikator makro daerah menunjukkan perubahan signifikan: angka kemiskinan terus turun, sementara pertumbuhan ekonomi melaju jauh di atas rata-rata nasional.

‎Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Halmahera Tengah menunjukkan persentase penduduk miskin turun secara konsisten dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, angka kemiskinan tercatat sebesar 11,44 persen. Setahun kemudian turun menjadi 10,71 persen, dan pada 2025 kembali turun menjadi 9,16 persen.

‎Dengan demikian, dalam kurun 2023-2025, persentase penduduk miskin Halmahera Tengah turun 2,28 poin persentase.

‎Kepala BPS Halmahera Tengah, M. Budiman Johra, mengatakan tren penurunan tersebut berlangsung secara konsisten.

‎"Jadi setiap tahun itu menurun terus sejak dalam tiga tahun,"kata Budiman, Selasa (22/9/2026).

‎Menurut Budiman, perkembangan industri pertambangan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi masyarakat. Di sisi lain, intervensi pemerintah daerah melalui berbagai program sosial juga disebut ikut berkontribusi terhadap penurunan kemiskinan.

‎"Ini karena pengaruh atau kehadiran pertambangan juga, dan di samping itu ada bantuan dari pemerintah daerah seperti RLH dengan tujuan mengurangi angka kemiskinan,"ungkapnya.

‎Perubahan lebih mencolok terlihat pada indikator pertumbuhan ekonomi.

‎BPS mencatat ekonomi Halmahera Tengah pada 2025 tumbuh sebesar 60,77 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5 persen pada periode yang sama.

‎Pertumbuhan ekonomi Halteng juga menunjukkan lonjakan dibandingkan 2023 yang tercatat sebesar 42,41 persen.

‎Besarnya angka pertumbuhan tersebut tidak dapat dilepaskan dari struktur ekonomi Halmahera Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir semakin kuat dipengaruhi aktivitas pertambangan dan industri pengolahan.

‎Budiman menyebut sektor pertambangan menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.

‎"Ekonomi di Halmahera Tengah cukup baik, karena memang murni kehadiran pertambangan,"sebutnya.

‎Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Halmahera Tengah berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

‎"Pertumbuhan ekonomi Halmahera Tengah lebih tinggi dari daerah lain bahkan nasional," pungkasnya.

‎Di balik angka pertumbuhan ekonomi yang mencapai 60,77 persen dan penurunan kemiskinan hingga 9,16 persen, perubahan ekonomi Halteng sekaligus memperlihatkan semakin besarnya posisi sektor pertambangan dalam struktur perekonomian daerah.

‎Data tersebut menjadi gambaran bahwa geliat industri memberikan dorongan kuat terhadap aktivitas ekonomi daerah. Namun, angka pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan tetap perlu dibaca bersama indikator kesejahteraan lainnya untuk melihat sejauh mana pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan secara merata oleh masyarakat.‎

‎BPS sendiri secara rutin menerbitkan berbagai indikator sosial dan ekonomi Halmahera Tengah, termasuk kemiskinan, PDRB, pertumbuhan ekonomi, serta indikator harga dan kesejahteraan masyarakat. Publikasi BPS Kabupaten Halmahera Tengah menjadi rujukan resmi untuk melihat perkembangan tersebut.

‎Dengan pertambangan yang semakin dominan, tantangan berikutnya bukan semata menjaga tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut berujung pada peningkatan kesejahteraan yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Halmahera Tengah.(*).

Share:
Komentar

Berita Terkini